MENUDUH KEMUDIAN TERTUDUH

Dimulai dengan bangun, diakhiri dengan entah. Karena sekarang aku masih menulis tulisan yang gak tahu penting atau gak.

Hari ini aku belajar melihat kehidupan seseorang dari berbagai sisi. Melihat orang yang buruk sekalipun sari sisi terbaiknya. Seolah melupakan segala celah busuk yang ada pada diri mereka dan terfokus pada mutiara di dalamnya. Seorang teman yang sering aku sebut keburukan-keburukannya di depan teman-teman lain, yang sering aku menggerutu di belakangnya karena dia terlalu “pandai” dalam bercerita dan membuat telinga ini pusing akan cerita basinya, yang sering aku menilai dia jelek dan gak banget, kini telah mengajariku. Mengajari untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Berarti selama ini aku kurang baik? Iya, dan itu benar. Aku KURANG baik, mungkin lebih tepatnya TIDAK baik. Tapi serius, aku lagi mengupayakan untuk jadi benar-benar baik. Dan aku tak perlu berjanji apalagi bersumpah kalau aku sedang.

Ia mengajariku untuk menjadi seseorang yang “masa bodoh dengan apa yang dikatakan orang. Kalau kita dianggap jelek sama orang mungkin iya kita itu jelek. Dan kita harus ngaca.”. Teman, terimakasih untuk hal yang ini. Aku jadi sadar kalau aku benar-benar jelek. Bahkan tak ada alasan untuk dibilang bagus.

Yang kedua, ia mengajariku tentang “ketika ada masalah, gak usah oranglain tahu. Karena itu hanya membuat oranglain jadi ikut-ikutan punya masalah. Dan itu jadi dosa ke kitanya karena sudah jadi masalah buat oranglain”. Terimakasih yang kedua untuk kamu. Kamu pandai menyembunyikan masalah, sedangkan aku hanya pandai mengeluh dan menyebarkan masalah. Jelas, aku cuma bisanya nambah masalah. Dan itu jadi dosa. Ah, nambah lagi tabungan dosaku ini. Sekarang aku harus jadi pendiam dan berakting seolah-olah tak ada beban di pikiran dan hati ini. Ya, aku tahu ini butuh perjuangan keras. Karena pada dasarnya aku ini alay. Sukanya bilang-bilang ke oranglain dan seolah-olah akulah yang paling ripuh di dunia ini atau paling tidak di kota ini.

Terimakasih juga untuk kau karena telah mengatakan bahwa “aku tidak mau ibadahku hanya sekedar ritual. Tapi aku ingin ibadahku didasari hati yang ikhlas agar menjadi bermakna dan bernilai. Makanya aku tidak solat kalau aku lagi tidak mau.” Ya, saya setuju dengan yang pertama dan saya akui kamu benar. Tapi cobalah sayang kamu pikirkan, sholat itu ibaratnya wadah, sebanyak apapun amalan sholeh yang kamu lakukan tapi jika wadahya bocor, maka nilai dari ibadah itupun akan hilang. Tak ada makna atau nilainya sama sekali. Pecuma, waktumu terbuang sia-sia. Tapi aku berkaca dari kata-katamu, selama ini solatku memang hanya karena takut, karena sebuah tuntutan. Mungkin jauh sekali dari kata ikhlas. Aku malu padamu karena selalu sholat dalam keadaan hati ikhlas. Entah, entah kapan terakhir kali aku ikhlas dalam sholat. Atau mungkin tidak pernah. Aku ingin, bisa ajari aku bagaimana sholat dengan ikhlas dan berdoa khusyuk?

Kemudian kamu pernah bilang “Aku pergi ninggalin pacarku karena aku takut kebablasan. Aku pikir pacaranku sudah ga bener (walaupun dalam hati saya bilang pacaran emang ga ada yang bener). Aku harus pergi ninggalin dia. Dan aku tidak pernah mencintai dia lebih dari dia mencintai aku. Aku hanya percaya kalau dia jodohku, dia pasti akan balik kok teh.” Waaaaaaaaaaaaaaaah, 1000 jempol buat kamu. Banyak kesempatan untuk kamu melakukan yang lebih hina tapi kamu mencoba menghindari, bahkan pergi walaupun akhirnya kamu jadi depresi. Kamu korbankan perasaan kamu untuk menjaga kehormatanmu. Namun coba lihat, banyak orang-orang malah terbalik. Mereka gadaikan kehormatannya hanya untuk memelihara perasaannya. And you got it. Aku suka kamu sudah melakukan hal yang tepat. Dan ini bahan muhasabah banget untukku. Di saat kamu pergi ninggalin pacar karena takut kebablasan, aku malah cari perhatian biar ada yang memperhatikan untuk setidaknya hanya sekedar bertanya “apa kabar?” dan dari sana dimulai percakapan yang aku pikir aku sudah “tersesat”. Dan aku lupa, kalau itu adalah “GAK BENER” alias ladang NERAKA. Udah ah nurut apa kata kamu aja, kalau jodoh mah nanti juga balik lagi. Makasih sayang.

Karena kamu orangnya seneng difrontalin, ya jadinya aku kalau ngasih tahu kamu ga usah pake keterampilan konseling lagi. Yang penting kamu ngerti dan kena. Aku pernah bilang gini ya ke kamu ”Kamu teh jangan terlalu sering cerita aib kamu ke oranglain. Atas dasar apa kamu ngelakuin itu? Orang lain jadi nganggapnya kamu teh jelek.” Dan kamu ketawa “Hahahaa, ya emang aku gini teh. Aku ingin oranglain bisa dapet pelajaran dari apa yang aku omongin ke mereka. Inilah cara aku untuk memberikan nasihat kepada orang-orang. Kalau orang-orang sekarang gak bisa nerima caraku, mungkin suatu saat nanti mereka akan berpikir kalau apa yang aku bilang itu bener. Dan di sana apa yang aku omongin ke mereka ada maknanya.” Woooow, niatmu luar biasa, tapi caramu tak bisa diterima. Kamu tahu tidak sayang? Allah sudah menutup aibmu sebaik mungkin, serapi mungkin, setertutup mungkin sampai orang tidak ada yang tahu. Tapi kenapa kamu harus membuka sendiri aib-aibmu itu? Aku yakin kamu orang yang pandai bersyukur atas apa yang Allah berikan untukmu termasuk menutup aibmu. Sangat pandai.

Makna hidupmu sangat dalam jika dibandingkan dengan aku. Kamu hebat, kamu beda. Tapi ingat, tidak setiap orang bisa satu persepsi dengan kamu. Mereka kebanyakan tidak dapat memahamimu. Aku ini, aku perlu berbulan-bulan untuk sampai di titik ini, memahamimu. Walaupun aku tahu pasti banyak hal yang aku tidak tahu darimu. Orang lain tidak bisa menerima caramu. Jika begitu caramu, kamu hanya menanamkan rasa tidak suka oranglain padamu, kamu menumbuhkan prasangka buruk yang ada pada diri oranglain, dan kamu membiarkan oranglain memiliki hati yang sakit seperti itu. Katanya kamu sayang? Tapi kenapa kamu tega melihat orang yang kamu sayang punya penyakit hati? Ayo, berubahlah untuk yang satu ini. Aku yakin ini akan sulit untuk menemukan kembali bagaimana caranya agar kamu bisa menyampaikan pesan kepada mereka, tapi aku yakin juga kamu bisa. 🙂

Tapi terimakasih untuk itu, aku jadi sadar. Betapa jarangnya aku mengingatkan oranglain. Bahkan mungkin lupa. Aku hanya terlena dengan egoku sendiri. Yang penting happy. Ya, mungkin gitu. Aku terlalu egois, terlalu ga peduli, dan terlalu masa bodo. Beda dengan kamu yang selalu peduli, selalu memikirkan orang lain walaupun caramu memang tak bisa diterima. Terimakasih 🙂

Kamu juga bilang “Aku ga suka sama temen-temen di sini. Semuanya pakai topeng. Semuanya munafik.” Ya Allah, apa iya? Orang yang selama ini ada di sekitarmu kamu anggap mereka naif? Kalau iya, berarti aku juga. Mungkin iya aku seperti itu. Aku jadi sadar, di mana arti kata “teman” kalau pas kamu sakit aja aku gak merawat? Ah, jangankan merawat, jengukpun tidak malah kamunya keburu sembuh. Maaf. Aku memang munafik. Yang bisanya cuma ngomong doang.

Yang aku ingat terakhir kamu bilang “Aku lebih baik dicap jelek di mata orang daripada harus dicap baik. Karena ketika orang melihat aku sebagai orang baik, maka sekalinya aku berbuat jelek oranglain tidak ada yang percaya lagi sama aku. Masalah kebaikan, biar aku dan Allah aja yang tahu. Orang lain gak usah.” Ya, aku setuju dengan itu. Tapi apakah harus dengan menunjukkan aibmu agar orang lain melihat kita sebagai orang yang buruk? Dan apa harus kamu benar-benar menjadi orang yang buruk agar orang lain melihatmu sebagai orang buruk? Tolong dipikirkan ini sayang. Masalah kebaikan memang benar biar Allah dan kamu saja yang tahu. Aku tidak akan mengomentari. Tapi tidak ada salahnya jika kamu berbuat baik dan oranglain tahu. Tentunya dengan didasari hati yang ikhlas seperti yang kamu katakan. Agar apa? Agar oranglain benar-benar belajar dari kamu. Contohnya aku. Aku bisa belajar dari kamu karena kamu menampilkan sisi terbaikmu. Be the best for the other. Karena tak selalu hal buruk yang bisa dijadikan pelajaran, yang baik bahkan bisa menjadi tauladan.

Tapi terimakasih, aku jadi semakin sadar kalau aku selama ini melakukan kebaikan hanya karena ingin dicap baik oleh orang di sekitar. Gak peduli hati ikhlas atau tidak. Memang ini adalah cara yang hina untuk mendapatkan pengakuan. Aku akui. Ini bukan karena aku tidak mampu, tapi karena aku terlalu bodoh. Pasti.

Hal terakhir yang aku belajar dari sosokmu adalah, sabar. Terimakasih untuk segalanya. Terimakasih untuk tidak pernah meninggalkan aku. Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk menjadi salah satu temanmu. Semoga kamu menjadi lebih baik, mampu menebar manfaat untuk sesama, dan Allah selalu mencintaimu. 🙂

Terakhir terimakasih sudah mengizinkanku untuk menulis tulisan ini. Katamu “kalau bermanfaat ya kenapa tidak teh?”. Dan mudah-mudahan iya saja bermanfaat. 🙂

Advertisements