BAGAIMANA BISA ‘HIDUP’ KALAU GAK BISA SABAR?

2,5 tahun di sini. Menjadi terasing berkumpul dengan orang-orang asing. Melelahkan memang, pertama yang dilakukan adalah menyesuaian. Ya, menyesuaikan segalanya. Mulai dari hal terkecil adalah cuaca, makanan, cultur, aktivitas, lingkungan, dan kawan-kawannya. Semuanya berubah hampir 80 % dari masa di Tasik. But is the perfect moment to be a better person. Untuk siapa? Ya minimal untuk diri sendiri saja dulu.

Ke sini sih tujuannya cuma satu, gak banyak-banyak. Buat belajar. Apapun itu. Setiap hari mulai bangun sampai bangun lagi semua penuh aktivitas belajar. Belajar menghargai waktu terutama, belajar mencintai masa, belajar mempedulikan sesama, belajar to be a better person. Dan sampai sekarang aku gak tahu apakah aku sudah belajar menjadi orang yang lebih baik itu (?). Sebuah pertanyaan yang sering aku tanyakan pada diri sendiri, “apa iya kamu sekarang sedang belajar itu? Hah?”

Well, aku selalu percaya pada waktu, pada proses. Pelan-pelan lah ya. Memaksakan diri untuk berubah itu memang suatu keputusan yang gak pernah lepas dari risk. Salah satunya adalah harus selalu mengingat bahwa aku sedang berproses. Hah, kadang harus makan hati memang tapi itu belum seberapa.

Ya ya, belum seberapa. Jika dibandingkan dengan prosesnya seseorang. Bahkan ah, gak ada apa-apanya. Banyak orang-orang di luar sana yang jalan hidupnya penuh dengan tumpukan hambatan. Tapi mereka tetap sabar tuh. Tapi mungkin lebih butuh penguat. Lah aku? Penguat udah ada. Tapi mungkin butuh sabar. Kadang kita menjadi kebalikan dari oranglain.

Di sini, di dalam ilmu yang sedang aku selami banyak model nyata yang bisa aku jadikan bahan cambuk. Ternyata banyak orang yang aaaaaaaaaaaaaaah, jalan hidupnya terlalu rumit. Kasihan. Terlalu sulit untuk diceritakan satu persatu. Lebih baik dido’akan saja semoga urusannya cepat terselesaikan, semoga mereka tidak begitu, semoga, semoga, dan semoga ya Allah. Kau yang Maha Tahu bagaimana caranya.

Mereka mendapat beban yang bergitu berat karena imannya yang sudah baik. Karena mereka sudah sabar. Aku? Beban segini, cobaan segini itu tandanya imannya yang masih cetek, ah seujung kuku juga mungkin gak ada. Dan aku gak bisa sabar? HAHA, memalukan. Bagaimana aku bisa ‘hidup’ kalau gak bisa sabar?

Advertisements