THE FIRST OF MY LIFE

Satu hari sebelum malam tahun baru yaitu tanggal 30 Januari 2016, saya akhirnya bisa pulang ke kampung halaman setelah dua hari sebelumnya berusaha mencari tiket pulang dari Jogja ke Tasik. Finally, alhamdulillaah I got meskipun tidak biasanya pakai kereta itu karena tiket yang kurang ekonomis. Tapi, yaaa demi pulang, demi rumah, demi orang-orang rumah, dan sebenarnya demi kerinduan yang sudah lama terpendam.

Totally, saya sampai di Stasiun Tasikmalaya tepat setelah adzan subuh dikumandangkan. Seperti biasanya saya disambut oleh bapak. Hari-hari selanjutnya everything is ok. Tapi, tanggal itu, Tanggal 4 Januari 2017 seolah kesedihan menyelimuti keluargaku. Hanya Allah yang tahu maksudnya, saya yakin semua ini baik tapi saya tidak bisa pungkiri kalau batin ini merasa sedih dan takut. Sedih, karena hari itu emak (nenek) sakit dan harus diopname di Puskesmas, dan bapak harus dirawat di RSHS Bandung beberapa hari ke depan untuk menjalani yaaaa apa yaa, layaknya pemulihan pasca sakit yang tidak terduga itu datang. Waktu itu, bapak ditemani mamah di sana.

Sebagai anak satu-satunya, bapak secara otomatis tidak bisa menemani emak di Puskesmas. Akhirnya saya lah dan adik saya yang menemani emak ditemani satu keluarga yang luar biasa sudah mengikhlaskan waktu, tenaga, dan apapun untuk keluarga saya (semoga Allah memberkahi keluarga ini. Aamiin). Sebetulnya bukan keluarga ini yang menemani saya menunggu emak, tapi saya yang menemani keluarga ini menunggu emak.

Hari kedua emak dirawat, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Tidak ada siapa-siapa. Saya pikir setiap orang pernah merasakan hal ini. Pulang ke rumah (Tasik) untuk berkumpul dengan keluarga, tapi Allah punya kehendak lain. Kita harus terpisah dalam keadaan ini. Entahlah, saya tidak pandai menceritakan kesedihan. Tapi, ini sangat menguras air mata. Tidak ada seorangpun yang tahu saat itu bahwa saya menangis saat melihat rumah kosong, tanpa penghuni, gelap, hanya bayangan dan ilusi keberadaan mamah dan bapak yang saya lihat. Tidak ada yang bisa ditanya, tidak ada yang menyapa. Apa yang lebih menyedihkan dari kata sedih? Hampa? Mungkin itulah saya saat itu. Hampa dan kosong.

Saya coba membuka lembaran itu, kemudian membaca ayat perayat tanpa saya baca maknanya. Tapi mendadak tidak bisa. Tiba-tiba tersendat sendat bercampur dengan air mata. Ah, untungnya tidak ada yang tahu kalau hari itu mata saya sembap.

Detik berjalan seperti lambat sekali. Rasanya ingin segera bertemu mamah dan bapak yang hanya baru dua hari meninggalkan rumah. 😀

Singkat cerita, akhirnya sampailah pada hari di mana saya harus kembali ke perantauan, Yogyakarta. Tadinya saya pikir tidak akan ada yang mengantarkan, ini menyedihkan. Bukan ingin dimanja atau saya tidak mandiri, tapi ada rasa yang berbeda saat kita bisa mencium tangan orangtua meminta restunya untuk pergi berjuang kembali.

Dengan segala haru yang tidak saya sampaikan pada siapapun saat itu, saya yakin ini adalah kasih sayang Allah. Akhirnya bapak dan mamah kembali dari Bandung tepat beberapa jam sebelum saya berangkat. Its perfect life. Mengharukan, katanya “karunya bisi teu aya anu nganterkeun”.

Nuhun Mah, Pak. 🙂

Oh yaaa, Alhamdulillaah, satu hari sebelum saya pulang ke Jogja Emak sudah bisa pulang ke rumah meskipun belum pulih sepenuhnya.

Intinya ini bukan tentang masalah saya yang tidak ada mengantarkan ke Terminal, tapi tentang kasih sayang dan skenario Allah yang luar biasa. Ini bisa jadi bahan bersyukur, bersabar, dan ikhlas untuk saya pribadi.

Mudah-mudahan Bapak, Mamah, dan Emak sehat selalu. Keajaiban insyaAllah akan datang untuk kita. 🙂

Udah, saya gak bisa cerita lagi. Pokoknya gitu.

Advertisements