TENANG SAJA

Sebenarnya sudah lama sekali ingin saya ceritakan sesuatu yang mata saya tangkap dan hati saya rasakan ini. Entah, entah kapan ini kejadiannya yang jelas waktu itu sedang masa PILKADA di Yogyakarta. Saya duduk berdua bersama teman saya di kursi sebuah rumah makan sembari menyantap hidangan yang telah kami pesan. Sudah beberapa menit berlalu, pembicaraan kami waktu itu saya lupa tentang apa. Mungkin tentang tugas kuliah yang bikin panik, tentang kegelisahan hati, atau sekedar membahas makanan (mungkin) saya lupa. Yang penting saya tidak lupa dengan siapa saya duduk waktu itu.

Rumah makan ini biasanya ramai, tapi saat itu sepi. Hanya ada kami berdua. Oke, bukan saya dan dia yang akan saya ceritakan di sini. 😀 Tapi tentang dua orang di seberang jalan sana yang kami tatap dengan penuh rasa iba dan kagum. Saat itu, muncul suara gerombolan motor yang sedang pawai menggunakan knalpot yang sangat berisik sampai saya menutup telinga karenanya. Iring-iringan yang cukup panjang. Menghabiskan beberapa menit rombongan itu lewat di depan mata saya. Di balik keramaian iring-iringan itu, ada seorang bapak kusir yang sudah sangat tua sedang menenangkan kudanya karena kudanya ini merasa kaget dan terganggu oleh suara knalpot motornya. Kudanya hampir ngamuk karena sudah mulai ‘jempling-jempling’ merasa tidak nyaman dengan keadaan.

Bapak ini, yang saya tidak tahu namanya dengan susah payah menenangkan kudanya. Terlihat dari raut wajahnya ia cukup tegang mungkin takut kudanya tidak bisa ditenangkan. Sembari menenangkan kudanya, ia juga berusaha untuk menenangkan penumpangnya, seorang perempuan paruh baya yang usianya hampir sama dengan bapak kusir ini. Saya pikir ibu itu adalah isterinya. Karena terlihat sekali bapak itu sangat khawatir kepada ibu itu. Ah, siapapun ibu itu tetap saja bapak ini adalah orang yang peduli terhadap penumpangnya.

Melihat kejadian ini, saya merasakan ada hawa kesombongan dari para peserta pawai itu, mereka tidak peduli dengan sekelilingnya. Tegaaaaaa. Ternyata peristiwa ini membuat teman di depan saya meneteskan air mata melihatnya. Teman saya ini, menangis sesegukan, karena merasakan kepayahan bapak kusir di seberangnya. Iya, memang tega. Meskipun memang salah satu dari mereka membantu pak kusir menenangkan kudanya, tapi tetap saja menurut saya mereka tega. Itu menurut saya. Bapak kusir ini juga tidak terlihat kesal dan marah pada peserta pawai. MasyaAllaah pak, sabar pisan.

Jadi, plis atuh lah ulah sok pake knalpot anu garandeng. Hariwang, peliiiiiiiiiiisssssssssssssssss. Ganti knalpotmu kalau mau Allah mengganti statusmu. Atuh da gimana orang mau nyaman sama kamu kalau bikin kerusuhan wae mah. Ganti yaa 😀

Advertisements