APA YANG SALAH?

Di kesempatan kali ini mungkin tulisan akan sedikit berbeda dari tulisan sebelum-sebelumnya. Tulisan ini dibuat dan diposting karena saya merasa “marah” terhadap dunia media sosial akhir-akhir ini dan mungkin akibat ketidak tahuan saya juga. Oke, di sebuah media sosial yaitu instagram saya mengikuti banyak akun-akun dakwah yang pada awalnya saya pikir akan memberikan pengingat bagi saya. Awalnya saya masih adem ayem dan meng-iyakan apa yang mereka posting dan memang bisa menjadi pengingat saya serta menambah wawasan ilmu islam. Lama kelamaan, hawa berbeda mulai muncul di beranda akun saya.

Beberapa akun dakwah mulai memposting sesuatu yang menurut saya tidak pantas diposting oleh akun-akun dakwah seperti mudah mengkafirkan orang, mudah membid’ahkan orang, membicarakan kejelekan sesama muslim yang belum tentu benar, serta memojokkan suatu golongan organisasi masyarakat. Hai, kepada pemilik akun-akun dakwah, saya benar-benar kecewa terhadap apa yang kalian sampaikan. Kalian menggembar gemborkan sesuatu tanpa tabayyun terlebih dahulu. Jujur, saya sampai tidak tau mana yang benar dan mana yang hoax. Saya pikir postingan anda anda lah yang menjadikan perpecahan ummat. Seolah ada adu domba di dalamnya, fitnah keji, merasa paling benar. Sudahlah, selama kita berTuhan dan berRasul yang sama kita adalah satu. Bukankah itu yang menjadikan kita bisa bersatu di syurga nanti? Tidak usahlah mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang.

Saya kecewa bukan main. Akun-akun yang katanya akun dakwah untuk menebar kebaikan, kedamaian malah menjadi seperti ini. Saya merasa seperti dikhianati karena saya selama ini sudah menjadi pengikut mereka dan disakiti oleh kata-kata mereka. Sebagai seorang muslim, saya juga sedih melihat orang yang berpendidikan (pemilik akun dakwah pasti berpendidikan) dengan mudahnya menjatuhkan yang lain. See, Anda akun dakwah atau apa? Jujur saja saya sampai menangis menceritakan ini kepada seseorang. Merasa ada yang mengkhianati saya katakan sekali lagi, merasa kok bisa sesama muslim tidak mempercayai muslim lainnya karena mereka saling mencurigai, kok bisa mereka selalu mencari celah yang seharusnya ditutupi. Ya Allaah, astaghfirullaah. Mereka saudara kita loh. Satu Allah, satu Rasul Muhammad, satu syahadat, satu keyakinan tapi kok ya tega menjatuhkan saudaranya sendiri?

Karena postingan-postingan itu, saya putuskan untuk meng-unfollow semua akun dakwah. Saya pikir setelah saya mengun-foll saya lebih tenang dan tidak bersuudzon lagi tentang orang lain. Saya yang tidak bisa dan tidak tahu apa-apa hanya meminta ampun jika memang tindakan saya ini tidak tepat. Saya hanya ingin tidak ada buruk sangka dalam hati. Yang saya rasakan selama ini selama membaca postingan yang ada hanyalah buruk sangka, menghujat orang dalam hati, selalu ingin membicarakan keburukan dan banyak sekali hal buruk yang saya dapatkan. Jadi, saya pikir meng-unfoll adalah salah satu tindakan yang tepat untuk sementara ini. Please… Jangan rusak niat-niat baik akun dakwah lain karena akun anda.

Yang lebih miris lagi adalah ketika kemarin ada dua kejadian pembubaran pengajian di Jawa Timur. Saya tidak membela dan menyalahkan siapapun. InsyaAllah tidak pernah. Saya adalah seorang yang hidup dalam lingkungan yang heterogen. Saya “bunglon” bisa hidup dalam lingkungan bagaimanapun.

Saya dibesarkan dengan metode pendidikan Nahdatul Ulama yang terkenal dengan tradisionalnya. Bahkan saya pernah belajar di pesantren yang NU tulen. Orangtua saya NU, tapi ibu saya tidak qunut.

Di sisi lain saya juga belajar Kemuhammadiyahan karena saya kuliah di Muhammadiyah. Kadang saya tahiyyat pakai Sayyidina, kadang juga tidak. Kadang Allohumma ba’id baini, kadang Allohuakbar kabiiro. Kadang qunut, kadang tidak. Yang penting sholat. Kalau Ramadhan, saya tarawih 8 rakaat, witir 3 rakaat. Jarang 23 rakaat.

Di tempat rantauan, saya juga masih menghadiri pengajian-pengajian ustadz dan ustadzah HTI. Dan saya suka semangatnya mereka dalam berdakwah. Bahkan, saya belajar di pondok yang “kata orang” adalah wahabi. Dan selama ini saya belum menemukan hal yang menyimpang sedikitpun dari apa yang telah saya dapatkan sewaktu kecil.

Saya juga hidup di lingkungan keluarga besar yang bermacam-macam. Ada ikhwanul muslimin, persis, muhammadiyah, NU tapi kita bisa hidup rukun meski kadang lebaran kita berbeda. Jadi? Apa yang salah dengan NU? Apa sayang salah dengan Muhammadiyah? Apa yang salah dengan Wahabi? Apa yang salah dengan Ikhwanul Muslimin? Apa yang salah dengan PERSIS? Apa yang salah dengan HTI? Apa? Apa? Apa?

Mungkin pertanyaannya adalah apa yang salah dengan kalian? 🙂

Berdakwahlah dengan bijak yang bisa menyejukkan hati. 🙂

Tolong, jika saya salah jangan salahkan agama saya, keluarga saya, guru saya, dan orang-orang sekitar saya, tapi salahkan saja saya. Sama halnya dengan jika ada yang salah, jangan salahkan kelompoknya, jangan salahkan orang-orang sekitarnya.

Jika salah ingatkan. Jangan menjudge sebelum bertanya. Jangan bertanya sebelum mengenal. Maka, mari kita kenalan. : ))

Mohon maaf tulisan ini mengganggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s